Rabu, 30 Maret 2011

Makalah Penyelenggaraan jenazah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai umat Islam yang mempunyai tugas sebagai khalifah di bumi, hendaknya kita tahu tata cara yang benar dan adab-adab yang baik dalam menjalani kehidupan. Salah satunya tentang jenazah dan hal-hal yang berkenaan dengannya.
Firman Allah SWT :


“Tiap-tiap yang bernyawa itu akan merasakan mati, sesungguhnya pahala kamu akan disempurnakan pada hari kiamat.” (Ali Imron : 185)

B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan kewajiban-kewajiban penyelenggaraan janazah
2. Menjelaskan pengertian mati syahid
3. Menjelaskan pengertian takziah, ziarah kubur dan hikmahnya

C. Tujuan
Dapat memahami lebih dalam lagi tentang penyelenggaraan jenazah dan mengetahui adab-adabnya, sehingga mempunyai pengertian yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.

BAB II
PEMBAHASAN

PENYELENGGARAAN JENAZAH

Kewajiban-kewajiban dalam penyelenggaraan jenazah : memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya.

MEMANDIKAN JENAZAH
1. Syarat-syarat mayit yang perlu dimandikan
a. Mayit itu seorang islam
b. Ada tubuhnya walaupun sedikit
c. Meninggal bukan karena mati syahid.
2. Cara-cara memandikan mayit
Tentang cara-cara memandikan mayit ini yang harus diperhatikan sebagai berikut : Pertama-tama dibersihkan terlebih dahulu segala najis yang ada pada badannya, kemudian meratakan air keseluruh tubuhnya dan sebaik-baiknya tiga kali atau lebih jika dianggap perlu. Siraman yang pertama dibersihkan dengan sabun, yang kedua dengan air bersih, dan yang ketiga dengan air yang bercampur dengan kapur barus.
Yang perlu didahulukan dalam memandikan mayat ialah anggota wudu’, kemudian seluruh tubuhnya sebelah kanan, dan akhirnya sebelah kiri.


Artinya : Dari Ummi ‘Atiyah, Nabi SAW. Telah masuk ketempat kami sewaktu kami memandikan mayit anak beliau yang perempuan, lalu beliau berkata : “Mandikanlah dia tiga kali atau lima kali atau jika dipandang perlu lebih dari itu, dengan air serta daun bidara, dan basuhlah yang penghabisan dengan air yang bercampur dengan kapur barus”.

(H.R. BUkhari dan Muslim)

Beberapa riwayat yang sahih, Nabi SAW. Bersabda : “Mulailah oleh kamu dengan bagian badan sebelah kanan dan anggota wudu’nya”.

3. Aturan memandikan mayat
a.Mayat laki-laki dimandikan laki-laki, dan sebaliknya mayat wanita dimandikan pula oleh wanita, kecuali muhrimnya laki-laki diperbolehkan..

Sabda Nabi SAW. :


Artinya : Dari ‘Aisyah RA. : Bahwasanya Nabi SAW> bersabda : “Jika kamu meninggal dahulu sebelum saya, maka saya akan memandikanmu”.

(H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan disahkan oleh Ibnu Hibban) b. Sebaiknya orang yang memandikan keluarganya yang terdekat.
c. Suami boleh memandikan isterinya, dan sebaliknya.
d. Yang memandikan tidak boleh menceritakan tentang cacat tubuh mayat itu andaikata ia bercacat.

MENGKAFANI JENAZAH
Setelah mayat dimandikan dengan cukup sempurna, maka fardu kifayah bagi tiap-tiap mukmin untuk mengkafaninya. Mengkafani mayat sedikitnya dengan selapis kain yang dapat menutup seluruh tubuhnya.
Disunatkan bagi mayat laki-laki dikafani sampai tiga lapis kain, tiap-tiap lapis dari kafan itu hendaknya dapat menutupi seluruh tubuhnya. Mayat laki-laki menggunakan lima lapis kain, maka sesudah tiga lapis ditambah dengan baju kurung dan serban.
Mayat wanita disunatkan lima lapis, masing-masing berupa sarung, baju, kudung dan dua lapis yang menutup seluruh tubuhnya.
Kain yang digunakan untuk kafan ialah kain yang halal dipakainya sewaktu hidupnya dan disunatkan dengan kain yang berwarna putih dan baru pula serta diberi wangi-wangian.

Sabda Rasululloh SAW.:


Artinya : Dari Jabir berkata, Rasululloh SAW. : “Apabila salah seorang kamu mengkafani saudaranya, hendaklah dibaikkan kafannya itu.” (Riwayat Muslim)

Kalau kain putih tidak ada, maka boleh mengkafani mayit dengan kain apa saja yang dapat digunakan untuk mengkafaninya, kemudian disalatkannya.

SALAT JENAZAH
1. Syarat-syarat salat jenazah
a. Mayat harus Muslim
b. Salat Mayit/jenazah seperti halnya dengan salat lain, yaitu harus menutup ‘aurat, suci dari hadas besar dan kecil, bersih badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap kiblat.
c. Mayit sudah dimandikan dan dikafani.
d. Letak mayit sebelah kiblat orang yang menyembahyangkannya, kecuali kalau salat yang dilakukan diatas kubur atau salat gaib.
2. Rukun salat mayit
a. Niat.
b. Berdiri bagi yang kuasa (kuat).
c. Takbir empat kali.
d. Membaca Fatihah.
e. Membaca salawat atas nabi.
f. Mendoakan mayat.
g. Memberi salam.
3. Cara mengerjakan salat mayit
Salat jenazah dapat dilakukan atas seorang mayit atau beberapa orang mayit sekaligus. Salat mayit boleh pula dilakukan beberapa kali salat, misalnya mayit sudah disalatkan oleh sebagian orang, kemudian datanglah beberapa orang lagi untuk menyalatkannya dan seterusnya.
Jika salat dilakukan berjamaah, maka Imam berdiri dengan menghadap kiblat, sedang makmum berbaris dibelakangnya , mayit diletakkan dengan melintang di hadapan Imam dan kepalanya disebelah kanan Imam. Jika mayit laki-laki hendaknya Imam berdiri menghadap dekat kepalanya, dan jika mayit wanita, Imam menghadap dekat perutnya.
Salat jenazah tidak dengan ruku’ dan sujud serta tidak dengan adzan dan iqamat.

4. Melaksanakan salat jenazah
Setelah berdiri sebagaimana mestinya akan mengerjakan salat, maka:
a. Niat menyengaja melakukan salat atas mayit, dengan empat takbir menghadap kiblat karena Allah.
b. Takbiratul ihram ; mengucapkan “ALLAHU AKBAR” bersamaan niat.
c. Membaca surat Al Fatihah (tidak membaca surat-surat yang lain), terus takbir.
d. Sesudah takbir yang kedua, terus membaca salawat atas Nabi sebagai berikut :
e. Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa sekurang-kurangnya sebagai berikut :

Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah dia.
f. Selesai takbir keempat, membaca doa sebagai berikut :

Artinya ; Ya Allah janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.
g. Kemudian memberi salam sambil memalingkan muka ke kanan dan ke kiri dengan ucapan :

Artinya : Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian.

MENGUBURKAN MAYIT
1. Setelah jenazah disalatkan sebaiknya disegerakan diangkut ke kuburan
2.Menguburkan mayat bertujuan untuk menjaga kehormatannya, oleh karena itu maka kuburan harus dalam, sekedar bau busuknya tidak keluar dan tidak bisa dibongkar binatang buas.
3. Liang lahad bisa dibuat dipinggir arah kiblat, bisa pula menggunakan peti jenazah, tergantung keadaan tanah.
4. Pada waktu mayat dimasukkan dalam kubur dianjurkan membaca :


Artinya :
Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. (Riwayat Turmuzi dan Abu Daud)
5. Tali-tali pengikat dibuka, dan juga membuka kafan yang menutup muka, sehingga pipi kanan menyentuh tanah.
6. Menjatuhkan tanah ke dalam nya tiga kali.
7. Timbuni kuburan sampai selesai dan tancapkan nisan sebagai tanda diatasnya.
8. Dianjurkan berdoa setelah selesai penguburan.
9. Dalam keadaan darurat diperkenankan mengubur beberapa mayat dalam satu kuburan, misalnya karena bencana alam.

MATI SYAHID
Orang yang mati syahid yaitu orang yang mati di medan perang untuk meninggikan agama Allah. Pun begitu juga diharamkan menyembahyangkan mereka, sebab darah orang yang mati syahid itu di hari kiamat akan jadi kusturi (bau wangi) di hadirat Tuhan.
Adapun orang yang mati syahid dibagi pula atas beberapa macam :
a. Syahid dunia, yaitu orang yang mati di medan perang, hanya sekedar untuk mempertahankan tanah air, diri dan hartanya.
b. Syahid akhirat, yaitu orang yang mati karam, terbenam, sakit perut, mati melahirkan anak.
c. Syahid dunia dan akhirat, yaitu orang-orang yang telah disebut diatas tadi, ialah orang yang mati di medan perang untuk meninggikan kalimah Tuhan.
Diatas syahid yang ketiga ialah terletaknya haram memandikan dan menyembahyangkan mereka. Adapun syahid yang pertama dan kedua itu boleh diperlakukan sebagai mayat biasa asal saja badannya tidak hancur ketika mati itu.


TAKZIAH
Takziah artinya melawat (melayat) atau mengunjungi keluarga si mayit, dengan maksud menghibur agar tetap sabar dan tabah dalam menghadapi musibah itu. Dengan kata lain, takziah ialah ikut berbela sungkawa.
Hikmah bertakziah itu kebaikannya kembali kepada orang yang bertakziah, diantaranya menyadarkan dan mengingatkan diri masing-masing, meningkatkan keimanan, menumbuhkan sikap gotong-royong, menghibur hati keluarga yang dikunjungi, dan lain-lain.

ZIARAH KUBUR
Ziarah kubur ialah mengunjungi kuburan seseorang, sebagai tanda bakti penghargaan kepada mayit/arwah orang yang telah dikubur itu.
Adab ziarah kubur :
a. Mengucapkan salamketika memasuki tanah kuburan
b. Membaca ayat-ayat Al Qur’an, seperti yasin dll.
c. Mendoakan ahli kubur, terutama yang diziarahi
d. Hendaknya bersikap sopan
e. Memelihara kuburan famili masing-masing agar tetap bersih
f. Jika tidak memungkinkan berziarah ke kubur kedua orang tua atau famili karena jauh, maka cukup mendoakan dari tempat dimana kita berada.
Hikmah ziarah kubur
Ziarah kubur itu dapat mengingatkan kita, bahwa kita sekarang masih diberi kenikmatan umur yang masih ada, namun bagaimanapun juga pada saatnya kita juga seperti yang kita ziarahi ini, yaitu mati. Karena itu sebelum mati itu datang, kita harus memperbanyak amal ibadat dan sedekah, sebagai bekal kelak di akhirat. Dan sebaik-baiknya bekal ialah takwa kepada Allah SWT.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
- Kewajiban penyelenggaraan jenazah : memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkannya.
- Rukun salat mayit : niat, berdiri, takbir empat kali, membaca fatihah, membaca salawat atas Nabi, mendoakan mayat, memberi salam.
- Menghadiri takziah dan ziarah kubur memberikan banyak hikmah dan manfaat.


Daftar pustaka :

Rifa’I, Moh. 1998. Mutiara Fiqh Jilid I. Semarang : Wicaksana.
Sulaiman, Rasjid. Fiqh Islam. Bandung : Sinar Baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar